Selamat datang di
Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ketik kata kunci dan enter

Tradisi Gantangan Pada Setiap Hajatan Dalam Perspektif Fiqih Mazhab Asy-Syafi’i (Studi Kasus Di Wilayah Desa Bongas Kabupaten Subang )

No image available for this title
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pelaksanaan tradisi
gantangan yang berlangsung di Desa Bongas, Kabupaten Subang, serta menentukan
kedudukan hukum tradisi tersebut menurut perspektif mazhab Syafi’i. Tradisi
gantangan merupakan adat kebiasaan masyarakat setempat berupa pemberian
sumbangan uang atau barang (seperti beras) dalam berbagai acara hajatan, yang
kemudian dicatat secara rinci dalam "Buku Gantangan" dan mengandung konsekuensi
moral serta sosial untuk dikembalikan dengan nilai setara di masa mendatang.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis-empiris.
Sumber data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan kepala desa, tokoh
masyarakat, dan tokoh agama di Desa Bongas, sedangkan data sekunder dikumpulkan
melalui studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik gantangan di Desa Bongas secara
sosiologis didominasi oleh pola balanced reciprocity (resiprositas seimbang).
Berdasarkan analisis ushul fiqih, tradisi ini memenuhi karakteristik ’urf (adat
kebiasaan). Dalam perspektif mazhab Imam Syafi’i, kedudukan hukum tradisi
gantangan tidak bersifat tunggal melainkan diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: (1)
sebagai Akad Tabarru’ (Hibah/Sedekah) berstatus hukum sunnah/mubah jika didasari
ketulusan sosial tanpa catatan yang mengikat; (2) sebagai Akad Qardh (Utang-Piutang)
yang memunculkan konsekuensi wajib dikembalikan secara sepadan apabila dicatat
secara ketat dan dipahami secara kolektif sebagai beban materiil; dan (3) sebagai ’Urf
Fasid (Adat yang Cacat) berstatus hukum makruh hingga haram apabila mekanisme
pengembaliannya melahirkan paksaan psikologis, memberatkan finansial masyarakat
miskin, atau mensyaratkan kelebihan nilai pengembalian yang mengarah pada riba.
Dengan demikian, legalitas syar’i dari tradisi gantangan ini secara fundamental
bergantung pada kemurnian niat saling tolong-menolong (ta’awun) serta ketiadaan
unsur eksploitasi yang mencederai prinsip keadilan.
Ketersediaan
93/PMH/202693/PMH/2026Perpustakaan FSH Lantai 4Tersedia
Informasi Detil
Judul Seri

-

No. Panggil

93/PMH/2026

Penerbit

Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia : UIN yarif Hidayatullah Jakarta.,

Deskripsi Fisik

xiv,99 hal; 25 cm

Bahasa

Indonesia

ISBN/ISSN

-

Klasifikasi

93/PMH/2026

Informasi Detil
Tipe Isi

-

Tipe Media

-

Tipe Pembawa

-

Edisi

-

Info Detil Spesifik

-

Pernyataan Tanggungjawab
Tidak tersedia versi lain

Share :


Chat Pustakawan